Senin, 15 Agustus 2011

Proses Penyelesaian Irian Barat

Lail Cloudy Fighting!!!

Proses penyelesaian masalah Irian Barat?
Dalam penyelesaian masalah Irian Barat ini pada mulanya pemerintah menempuh jalan Diplomasi. Usaha diplomasi langsung dengan pemerintah Belanda ternyata tidak memberikan hasil karena pemerintah Belanda selalu menunda-nunda pembicaraan mengenai hal tersebut. Jalan berikutnya adalah dengan menggunakan forum PBB. Indonesia berusaha memasukkan masalah Irian Jaya dalam agenda pembicaraan sidang Umum PBB. Tapi usaha ini tidak membawa hasil karena Pemerintah Belanda berhasil mempengaruhi suara yang ada disana. Tuntutan Indonesia mengenai Irian Jaya melalui lembaga ini tidak pernah berhasil mendapatkan “mayoritas dua pertiga suara dari Sidang Umum PBB yang diperlukan untuk mendukung tuntutannya”. (Wilhelm, 1981 : 35)

Karena jalan Diplomasi sudah tidak mungkin, pemerintah mulai merintis jalan lain yang dianggap dapat mencapai tujuannya. Usaha pertama ialah membangkitkan semangat rakyat dengan jalan kampanye. Indonesia hanya melihat bahwa jalan militer merupakan jalan yang harus ditempuh untuk mendapatkan Irian Jaya. Amerika Serikat mengambil sikap politik yang tidak terlalu menguntungkan Indonesia pada permulaan.

Trikora?
Tri Komando Rakyat (Trikora) merupakan pernyataan dari Presiden Soekarno yang diucapkan di Yogyakarta (Yogakarta sebagai tempat pengucapan Trikora sebagai simbol Agresi Militer Belanda II 19 Desember 1948), terdiri dari tiga komando kepresidenan, yaitu :
1. Gagalkan pembentukan Negara Papua bikinan Belanda Kolonial.
2. Kibarkan Sang Saka Merah Putih di seluruh Irian Barat.
3. Bersiaplah untuk mobilisasi umum. (Sartono, dkk, 1976 :113)

Dengan Trikora ini Indonesia sudah siap untuk menghadapi segala kemungkinan dengan segala harga yang harus dipertaruhkan. Angkatan bersenjata dipersiapkan untuk menyerang kedudukan Belanda di Irian Jaya. Dibentuk komando tertinggi pembebasan Irian Barat dengan Komando Mandala. Soeharto ditugaskan sebagai komandan pasukan gabungan dalam menghadapi tentara Belanda di Irian Jaya. Dalam masa inilah terjadi kontak senjata dengan tentara Belanda di laut Arafuru dimana Yos Sudarso gugur ketika kapal RI Macan Tutul terkena tembakan angkatan laut Belanda.

Melihat situasi yang mulai hangat, Pemerintah AS mulai aktif menyelesaikan masalah Irian Jaya. Peranan Duta Besar PBB untuk Indonesia Howard Jones dalam meyakinkan pemerintahnya untuk berperan aktif sangat besar. Pemerintah Belanda mendapat tekana yang keras dari pemerintah AS agar mau membuka kembali perundingan dengan Indonesia. Dengan mandat penuh dari pemerintahnya ditambah dengan tugas yang diberikan oleh Sekretaris Jenderal PBB tersebut Ellsworth Bunker menjalankan tugasnya dengan baik, belanda berhasil dipaksa bahkan melepaskan Irian Jaya dalam waktu singkat kepada Indonesia.

Perundingan RI – Belanda (Perjanjian New York) berada dibawah Diplomat AS Ellsworth Bunker, di tandatangani 15 Agustus 1962 dengan 8 point kesepakatan
. Perjanjian tersebut menyebutkan bahwa Irian Jaya akan diserahkan kepada Indonesia melalui masa tenggang dibawah pengawasan PBB. . Lembaga pengawas itu bernama United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA). Badan ini tidak lama menjalankan tugasnya. 1 Mei 1963 UNTEA menyerahkan Irian Jaya kepada pihak RI.

Tahun 1969 di Irian Barat dengan pengawasan PBB (utusan Sekjen) diadakan Pepera- act of free choice- (Penentuan Pendapat Rakyat) – apakah rakyat akan tetap menjadi bagian RI atau akan keluar (berpisah). Hasilnya rakyat Irian Barat memberikan suara untuk tetap sebagai bagiab RI. Hasil tersebut diajukan ke forum Sidang Umum PBB. Hasilnya 84 suara setuju, 0 suara kontra, 30 abstain kebanyakan Negara-negara Afrika. Dengan demikian selesailah perjuangan pembebasan Irian Barat.

0 komentar:

Poskan Komentar